Setiap Anak Bukan Hanya Tanggungjawab Keluarga

Gusti seorang pegiat sosial yang berfokus pada pembinaan remaja yatim dhuafa dan pendampingan tunanetra di Surabaya dengan cara mengajak remaja untuk terjun ke dunia relawan.
Gusti Hamdan Gaharu Keluarga Ashoka Indonesia March 2025

“Dari Gaharu Keluarga, saya menyadari bahwa benar adanya, perubahan itu datang dari keluarga”  

 

Gusti seorang pegiat sosial yang berfokus pada pembinaan remaja yatim dhuafa dan pendampingan tunanetra di Surabaya. Pendekatan yang digunakan Gusti dengan cara mengajak remaja untuk terjun ke dunia relawan. Melalui Yayasan Urunan Kebaikan, Gusti mengembangkan 3 program utama untuk remaja, yakni Homesantren Kebaikan, Kawan Netra, dan Yatim Design Academy. 

Di Yayasan Urunan Kebaikan, Gusti mengeksplorasi berbagai dinamika yang dihadapi remaja dan mengintervensinya dengan membangun empati dari para remaja. Di satu sisi, Gusti merasa perannya sebagai pendamping punya andil cukup besar dalam menghadapi persoalan remaja, Tetapi ia juga memahami persoalan remaja tidak lepas dari tanggungjawab dan dukungan keluarga sehingga bisa memberikan solusi bagi remaja secara bersama-sama di keluarga.  

Pada bulan Juli 2024, Gusti mengikuti Pelatihan Fasilitator Gaharu Keluarga di Kabupaten Banyuwangi. Selama pelatihan, Gusti makin menyadari peran pendamping dapat menjadi jembatan antara remaja dan orang tua. Walaupun tidak mudah memberitahu dan mengarahkan orangtua, tetapi Gusti merasa tertantang.  

Paska pelatihan, Gusti menginisiasi proses komunikasi antar orangtua dan mediasi antara orang tua dengan remaja yang didampingi. Dari proses mediasi, Gusti menemukan kesenjangan pengetahuan antara remaja dan orang tua yang akhirnya mendorong keduanya untuk kembali belajar dan membangun ikatan bersama.  

Gusti juga menemukan walau orangtua dan remaja sama-sama punya tujuan baik, tapi jurang komunikasi seringkali menjadi konflik antara remaja dan orang tua. Ia mencontohkan seorang remaja yang bertingkah kurang baik yang ternyata datang dari keinginan remaja tersebut untuk punya jadwal makan dan sholat bersama dengan orang tuanya. 

Sejak saat itu, Gusti menemukan metode baru untuk remaja-remaja yang dibinanya. Gusti pun mulai membentuk grup WhatsApp pada orangtua remaja dampingan. Dibutuhkan waktu 2 bulan untuk Gusti mengumpulkan 37 orangtua remaja dampingan. Setelahnya, Gusti mengundang para orang tua untuk bertemu langsung dan melakukan pembinaan berkaitan dengan pengasuhan.  

Salah satu binaan Gusti bernama Putra (bukan nama aslinya), seorang remaja laki-laki berusia 18 tahun. Ia bagian dari kelompok dhuafa yang harus bekerja karena orang tuanya terlilit hutang. Rumah mereka kerap dikunjungi debt collector. Situasi ini hampir membuat Putra untuk putus sekolah dan fokus bekerja untuk melunasi hutang orang tuanya. Sebelum keputusan menjadi bulat, Putra mendiskusikan keresahannya bersama dengan Gusti dan akhirnya dilakukan mediasi dengan orang tua Putra. Tujuannya untuk memberikan pengertian bahwa Putra membutuhkan dukungan orangtuanya untuk fokus pada pendidikannya.  

Gusti juga membawa membuka peluang untuk remaja binaannya dengan mengikutsertakan mereka dalam program Duke of Edinburg Award International Awards (DoE Awards), sebuah penghargaan internasional untuk mendukung perkembangan remaja dengan mengoptimalkan potensi yang mereka miliki. Selama enam bulan peserta ditantang untuk melakukan 3 (tiga) hal sekaligus dalam seminggu sekali dalam lingkup Sosial, Fisik, dan Keterampilan. Remaja binaan Gusti banyak bertumbuh melalui kegiatan ini. Dalam hal sosial, ada yang mengajar ngaji dan menjadi  relawan masjid. Dalam hal keterampilan, ada yang menjadi mahir komputer dan mampu membuat film. DOE Awards secara tidak langsung menjadi alat bagi Gusti untuk membina para remaja dan mendorong mereka untuk melakukan berbagai kegiatan positif yang akhirnya membawa mereka untuk mendapatkan penghargaan lain, salah satunya Pemuda Pelopor Kota Surabaya. Melalui kerja keras Gusti, 28 remaja binaan berhasil menerima DOE Awards atas berbagai kontribusi positif yang berhasil dijalankan.

Dalam proses mendapatkan DOE Awards, tidak lupa Gusti melibatkan orang tua di dalam kegiatan yang dilaksanakan para remaja. Misalnya, ada orang tua yang membantu anaknya yang tunanetra untuk memotret kegiatan yang anaknya lakukan untuk diunggah di dalam laporan mingguan. Hari-hari menuju awarding night, orang tua juga turut berpartisipasi menjadi penyebar undangan, seksi konsumsi, penerima tamu, dsb.