Rina Kusuma
Rina Kusuma is an experienced coach, mentor, and facilitator with over 20 years in Indonesia’s environmental NGO sector, focusing on children, youth, and women’s development. In 2008, she founded Teens Go Green, a volunteer-based youth club promoting environmental awareness across Indonesia. At EcoNusa Foundation, she launched the School of Eco Diplomacy and Papuan Young Researcher programs to empower young people in biodiverse but underserved eastern Indonesia.
Rina holds an MA in Children, Youth, and International Development from Brunel University London and currently serves as Family Changemaking Program Manager at Ashoka Indonesia. Since 2022, she has trained 150 family facilitators across Indonesia in collaboration with the Ministry of Women Empowerment and Children Protection.
She is also an Advisor for GYBN (Global Youth Biodiversity Network) Indonesia, Board member of Teens Go Green Indonesia, and co-initiator of Kaum Muda Tanah Air. A single mother of two, Rina enjoys baking, making kimchi, and watercolor sketching (check her artworks on Instagram: @sketsarina).
Melindungi Keadilan Perempuan lewat Payung Hukum.
"Awalnya, saya tertarik mengikuti Pelatihan Fasilitator Gaharu Keluarga karena ingin belajar teknik fasilitasi dan menggunakan pendekatan keluarga dalam pendampingan komunitas saja. Namun ternyata, Gaharu Keluarga juga menjadi titik balik kehidupan saya"
Yamini memutuskan belajar hukum untuk melindungi ibu dan keluarganya. Sepeninggal bapak, hidup Yamini berubah. Usaha demi usaha yang Ibu dan Yamini bangun berakhir dengan kebangkrutan. Harta semakin menipis hingga rumah yang berkali-kali nyaris direbut orang membuat Yamini SMP berpikir bahwa perempuan harus mandiri. Tahun 2017, Yamini dan kawan-kawannya mendirikan Lembaha Bantuan Hukum (LBH) khusus Perempuan dan Anak (LBH Jentera Perempuan). Namun siapa sangka, pekerjaannya ini membawa energi negatif yang menyebabkan dirinya jatuh sakit.
Awalnya, kanker payudara yang dialami Yamini hanya sebatas dugaan. Meski satu dua gejala yang ia rasakan mengarah ke kanker sudah ia jumpai sejak awal tahun 2022, ia mencoba tenang dengan melakukan pengobatan herbal. Namun di akhir 2023, diagnosis dokter memvonis Yamini mengidap kanker payudara stadium 3. Vonis ini seperti dentuman kencang dan menyakitkan, serta merta merubah hidup Yamini. Ia pernah mempertimbangkan dirinya untuk berhenti dari dunia advokasi, karena baginya, pekerjaanya selama ini; mengadvokasi hak-hak korban Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) dan melakukan pemberdayaan perempuan korban kekerasan adalah aktivitas yang membawa energi buruk. Selain itu, ia pun butuh fokus untuk melalui tahapan demi tahapan pengobatan dari penyakit kankernya.
Yamini mencari kontribusi lain untuk bisa tetap membantu sesama perempuan. Bulan April 2024 Yamini mendirikan lembaga Ahimsa Mahardika untuk melakukan pendidikan-pendidikan kritis tantang hukum dan ekonomi. Visi Ahimsa Mahardika adalah terbentuknya kader-kader yang mampu melakukan advokasi dan layanan hukum untuk kaum tertindas. Selain membantu para korban melalui jalur hukum, Ahimsa Mahardika juga melakukan program preventif untuk mencegah kekerasan terhadap perempuan.
Pada bulan Juli 2024, Yamini terpilih sebagai peserta Pelatihan Fasilitator Gaharu Keluarga Jawa Timur di Banyuwangi. Motivasinya mengikuti pelatihan ini adalah untuk memperkuat gerakannya di Ahimsa Mahardika. Namun selama mengikuti pelatihan, Yamini mengalami proses penguatan internal pada dirinya. Saat sesi membuat Sungai Kehidupan Keluarga melalui gambar dan bercerita dengan teman kelompoknya, Yamini banyak menangis dan menumpahkan emosi yang ada di dalam dirinya. Ia mengaku dirinya bukanlah sosok yang mudah menangis, namun proses Sungai Kehidupan Keluarga menjadi semacam terapi dan titik balik hidupnya.
Paska pelatihan, Yamini semakin yakin mengembangkan pendekatan keluarga untuk memperkuat penguatan perempuan dan bantuan hukum. Ia dan rekan-rekannya membantu para korban kekerasan dan melakukan pemberdayaan perempuan melalui Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Ahimsa Mahardika memilih Desa Mangaran, Kecamatan Ajung, Kabupaten Jember sebagai lokasi sasaran kegiatan dalam pengadvokasian kasus dengan pendekatan keluarga.
Desa Mangaran pernah menjadi tempat lokalisasi terselubung. Maka tak heran jika Kecamatan Ajung memiliki angka penderita HIV yang tinggi. Secara kultural, masyarakat Desa Mangaran menganut nilai-nilai patriarki yang kuat, sehingga advokasi dan pendampingan dilakukan secara bertahap dan pelan-pelan. Banyak penduduk wanita yang menjadi buruh petani, buruh tembakau, atau merantau ke Bali untuk bekerja.
Pendekatan Gaharu Keluarga berhasil menjadi pintu masuk aktivitas yang dilakukan Ahimsa Mahardika di Mangaran melalui edukasi SADARI (Periksa Payudara Sendiri), layanan deteksi dini kanker payudara, dan USG Payudara bersama Komunitas LOVE PINK Jember. Sebagai penyintas kanker payudara, Yamini menyambungkan komunitas LOVE PINK dengan warga dampinganna di Desa Mangaran.
“Seperti kaleidoskop,” ungkap Yamini. Ia merasa dengan menelusuri perjalanannya sebagai advokat dan menjalani hidupnya untuk membuat hal baik dan bermanfaat bagi banyak orang, ia seperti menemukan tekad baru sebagai fasilitator keluarga. Ia tetap melakukan pekerjaannya dan merancang rencana advokasi dengan mentransformasikan energi negatif dari kasus-kasus kekerasan menjadi energi positif yang memberinya kekuatan menuju kesembuhan dirinya sebagai penyintas kanker payudara.