Rina Kusuma
Rina Kusuma is an experienced coach, mentor, and facilitator with over 20 years in Indonesia’s environmental NGO sector, focusing on children, youth, and women’s development. In 2008, she founded Teens Go Green, a volunteer-based youth club promoting environmental awareness across Indonesia. At EcoNusa Foundation, she launched the School of Eco Diplomacy and Papuan Young Researcher programs to empower young people in biodiverse but underserved eastern Indonesia.
Rina holds an MA in Children, Youth, and International Development from Brunel University London and currently serves as Family Changemaking Program Manager at Ashoka Indonesia. Since 2022, she has trained 150 family facilitators across Indonesia in collaboration with the Ministry of Women Empowerment and Children Protection.
She is also an Advisor for GYBN (Global Youth Biodiversity Network) Indonesia, Board member of Teens Go Green Indonesia, and co-initiator of Kaum Muda Tanah Air. A single mother of two, Rina enjoys baking, making kimchi, and watercolor sketching (check her artworks on Instagram: @sketsarina).
Langkah Kecil untuk Perubahan yang Besar
Seakan Tuhan tidak izinkan aku untuk berhenti.
Nurun adalah seorang pengasuh di Pondok Pesantren Shafiyah. Dalam tradisi Jawa Timur, perempuan pemimpin pondok pesantren disebut Nyai. Menjadi seorang Nyai di usia muda membuat Nurun menopang banyak tanggung jawab besar. Ia merintis Pondok Pesantren Shafiyah dari santri yang hanya terdiri dari 3 orang santri putri dan 3 santri putra di tahun 2014 hingga kini mencapai 80 orang santri. Kedudukan ini menjadi wadah baginya untuk memberdayakan keluarga melalui metode Pengasuhan Bersama yang membutuhkan sinergitas antara Pengasuh Pesantren, Wali Santri, dan Dewan Guru.
Semangat perubahan sudah menjadi bagian dari hidup Nurun. Pondok Pesantren binaannya adalah bukti dirinya mengambil peran pada pembenahan karakter remaja dan penguatan peran keluarga dalam aspek kehidupan. Sebelum menjadi bagian dari Gaharu Keluarga, Nurun senantiasa membangun inisiatif yang sesuai dengan kebutuhan para santri. Saat Nurun mengambil jeda dalam memberikan fasilitasi, pengasuhan, dan pengawasan terhadap para santri di Pondok Pesantren-nya, ia menjumpai ada banyak santri yang membutuhkan pendampingan darinya. Selain itu, regenerasi keluarga yang cepat di lingkup Pesantren juga menimbulkan tantangan-tantangan baru dalam mengidentifikasi metode-metode yang digunakan untuk melakukan pendampingan keluarga.
Hal ini mendorong Nurun untuk melakukan asesmen pada santri yang melakukan pelanggaran terhadap aturan Pondok Pesantren, Ia menemukan bahwa latar belakang santri yang bermasalah adalah keluarga yang juga memiliki permasalahan. Ruang Aman Anak (RAA) yang dibentuknya menjadi sebenar-benarnya ruang aman bagi para santri untuk menumpahkan kerisauan mereka. Lambat laun, Nurun semakin yakin pengasuhan gotong royong adalah solusi tepat untuk persoalan ini. Ia mengaudiensikan hasil temuannya kepada dewan guru dan mengajukan pembentukan Ruang Asuh Bersama (RAB) sebagai program yang dibutuhkan untuk menjadi solusi dari persoalan ini.
Nurun adalah salah satu bukti nyata hidupnya Gaharu Keluarga. Bergabung sejak 2022, Nurun kembali mengikuti Pelatihan Fasilitator Gaharu Keluarga untuk Bumi di tahun 2024 untuk menambah pengetahuan fasilitasi keluarga dalam isu iklim dan lingkungan, khususnya di lingkungan pesantren.
Sepulang dari pelatihan pertama yang membuatnya menjadi Change Leaders Gaharu Keluarga, Nurun mengalami berulang kali kegagalan ketika melakukan misinya untuk menanamkan nila-nilai Keluarga Pembaharu. Mulai dari batalnya sesi kelas keluarga bersama wali murid PAUD hingga minimnya minat para dewan guru di Pondok Pesantrennya. Tapi semangat Nurun tidak surut, sebab sebagai Change Leader Gaharu Keluarga ia meyakani pentingnya menumbuhkan kesadaran keluarga sebagai titik awal perubahan juga kesukarelaan untuk menjadi bagian dari perubahan itu.
Perubahan kecil perlahan ia sadari ada pada dirinya sendiri. Perlahan kemampuan Nurun dalam menata cara bersikap dan bertutur kata kepada suami maupun anak-anaknya mengantarkannya pada komunikasi keluarga yang lebih baik. Pelatihan Fasilitator Gaharu Keluarga memberikan oleh-oleh kepada Nurun, sebuah cara yang menyenangkan dalam melakukan pendampingan komunitas dan keluarga, menyebarkan nilai-nilai keluarga dan gender yang berbasis Islam dengan metode yang aman dan nyaman untuk diterima oleh setiap orang.
Hingga kini, Nurun melalui ASVIA semakin pro aktif melakukan pendampingan pada keluarga santri. ASVIA menjadi organisasi yang dibentuknya untuk menyediakan layanan pemenuhan hak anak dan pengasuhan keluarga. Nurun membangun semangat Semua Orang adalah Pembaharu melalui ASVIA yang beranggotakan para guru pesantren dan ananda santri dari Pondok Pesantrennya. Meskipun seluruh pengurus berasal dari internal pesantrennya, Nurun terus membangun jejaring dan berkolaborasi dengan pihak eksternal dari lembaga pendidikan lainnya hingga lintas daerah.
Di tahun 2024, Nurun dan suami mendaftarkan inisiasinya dalam mewujudkan lingkungan sekolah yang sehat. Melalui gerakan kecil #PakaiYangAda, Nurun dan suami berhasil menekan angka pengeluaran barang dan jasa hingga menghentikan peningkatan sampah plastik yang sulit terurai. Gerakan ini membawa Nurun dan suami menjadi pemenang dalam Kategori Keluarga di Gaharu Bumi Innovation Challenge (GBIC) yang diselenggarakan oleh Ashoka Indonesia dan KokBisa.
Kisah Nurun membuktikan bahwa kontribusi tidak harus besar untuk memberikan dampak yang signifikan, melainkan langkah kecil yang terus menerus akan membawa kita ke dalam perjalanan perubahan dengan senantiasa terus bersyukur.