Dakaru Payakumbuh: Mendaki Gunung Gaharu untuk Membangun Keluarga Berkualitas

Ingin tahu bagaimana Gerakan Keluarga Pembaharu menciptakan perubahan positif di Payakumbuh? Temukan inspirasinya dari pertemuan seru hingga proyek kreatif yang mempererat ikatan keluarga di sini.
Family Changemaking in Indonesia - Ashoka Indonesia

Pendakian Gunung Gaharu

Pada Ahad tanggal 11 Desember 2022 adalah pertemuan offline perdana Dakaru (Dasa Keluarga Pembaharu) Ibu Profesional di lokasi TK An Nahl lokasi Jaruang. Di mana kegiatan ini menghadirkan seluruh anggota keluarga, yang terdiri dari Ayah, Bunda dan anak. Tentu saja diperbolehkan ikut untuk Atuk, Nenek, Om dan Tante jika tinggal serumah. 

Sudah terbayang betapa serunya mendampingi kegiatan untuk peserta dengan tingkat umur yang berbeda-beda. Bagaimana agar semua peserta mulai dari Ayah, Bunda, Nenek, Tante, anak muda, pra aqil baligh, anak-anak, anak usia dini, serta para bayi yang hadir terlibat penuh?

Group of family talk together

Pertemuan yang Seru dan Mengasyikan

 

Pertemuan awal atau Dakaru Payakumbuh sesi pertama ini dibuka dengan diawali perkenalan melalui suatu permainan, yaitu setiap peserta menyebutkan nama dan kekuatannya dengan gaya dan action berbeda. Sepuluh keluarga telah lulus seleksi untuk mengikuti Gerakan Keluarga Pembaharu, di regional IP Payakumbuh Lima Puluh Kota. 

Dilanjutkan oleh peserta kedua mengulangi cara yang sama dengan peserta pertama, baru perkenalan dirinya. Demikian seterusnya hingga akhir.


Dengan cara bermain ini semuanya jadi saling mengenal antar seluruh peserta, sekaligus menikmati gaya unik, lucu dan pastinya bikin happy. 

Setelah sesi perkenalan, selanjutnya dilakukan briefing untuk tahapan pendakian. Pendakian merupakan analogi perjalanan hidup, yang identik dengan jalan mendaki dan jalan menurun. Karena gamifikasinya adalah eksplorasi Gunung Gaharu, sehingga nama pertemuannya disebut pendakian 1, 2, 3, 4 dan summit.

Di sesi ini, disampaikan juga ada tiga tipe orang naik gunung, yaitu climber, camper dan quitter. Climber sangat senang dengan tantangan, selesai satu puncak, ingin menaklukkan puncak berikutnya. Camper memilih berhenti di tengah, buka tenda, tidak melanjutkan sampai puncak, cukup sampai tahap ini saja, sedangkan quitter memilih batal naik gunung, karena membayangkan susahnya perjalanan.

Termasuk tipe pendaki yang mana Anda dan keluarga?

Setelah pendakian selesai, peserta menuliskan harapan mereka mengikuti Gaharu Keluarga di sticky note dan menempelkan di gambar Gunung Gaharu.

Kegiatan dilanjutkan dengan tahapan Susur Sungai dengan memutarkan musik gemericik aliran sungai untuk menghadirkan suasana sungai. Terasa di sana ada perasaan damai dan tenang. Kami semua memejamkan mata dan diperdengarkan tahapan membuat sungai Kahuripan. Setelah mendapatkan gambaran sesuai yang didengar, peserta memvisualisasikan dalam bentuk gambar dan tulisan. 
Yang menarik dari momen ini adalah para Ayah dan Bunda serius berdiskusi, dengan keterlibatan anak-anak. Di sisi lain, ada anak-anak yang ikut menggambar dan mencorat coret juga. 

Kegiatan setelah ice breaking, lanjut dilakukan presentasi sungai Kahuripan yang diwakili oleh 3 orang peserta, yaitu Riza, Bume, dan Alisa. Ketiganya menggambarkan suasana sungai kehidupan yang berkelok, berliku, terasa ada sedih, haru biru, putus asa, mati gaya, hingga akhirnya menemukan titik balik dan mampu melakukan perubahan. Keren sekali!

Kegiatan masih berlanjut dengan Refleksi kegiatan Gaharu Keluarga atau Dakaru sesi ke-2. Tahapan ini diwakili oleh Uni Lia yang menyampaikan perjuangannya sehingga bisa mengajak suami dan anak bujang di pendakian pertama, padahal sebelumnya suami izin tidak hadir.

Pengalaman lainnya dialami oleh Tya. Setelah mengikuti pendakian pertama, Tya menyadari bahwa dia dan suami adalah dua karakter yang berbeda: suami Tya tipe climber dan Tya tipe camper. Tetapi, Tya menyadari itulah yang membuat mereka menjadi satu keluarga yang lengkap dan bisa bersinergi. Dalam kondisi sakit, sang suami tetap berkomitmen menemani istri dan anak-anak tercinta untuk hadir di pertemuan dan kegiatan Gaharu Keluarga.

Ada lagi cerita Neneng, yang dalam keadaan pemulihan kesehatan, mendapatkan inspirasi dari keluarga lain yang bisa hadir dengan seluruh anggota keluarga. Walaupun jumlah anggota keluarga Neneng berjumlah 7 orang, tapi Neneng hanya bisa hadir sendiri. Tetapi, yang patut disyukuri adalah Neneng pulang dengan kondisi jiwa dan raga yang semakin terasa sehat. Berkumpul memang dapat menjadi pembangkit semangat yang terbaik.

Seluruh peserta sudah sampai di pos pertama, semuanya beristirahat dan menyiapkan jiwa raga untuk melanjutkan pendakian. Sesi ini ditutup dengan foto bersama dan makan karupuak kuah.

 

Perjalanan yang Penuh Pembelajaran

Setelah di pendakian 1 dan 2 para keluarga diajak mengenali lebih dalam tentang keluarganya dengan aktivitas main bareng dan ngobrol bareng, sampailah semua peserta pada Dakaru sesi ke-3 yaitu jadwal belajar dengan maestro atau dengan changemakers. 

Para peserta dipersilakan untuk berkunjung ke guru, bersilaturahmi, memetik hikmah, meraup inspirasi dan menjumput berkah. Karena ketika belajar kepada changemakers atau guru, peserta dapat menemukan apa akar masalah yang sebenarnya dalam keluarga, sehingga dapat belajar dengan narasumber yang tepat.  

Pada sesi ini, saya mendapatkan pengalaman menarik. Bertepatan dengan proses menjalankan sesi ke-3 ini, saya dikontak oleh Mbak Ressy Laila, leader Omah Projek yang juga terpilih menjadi Family Changemakers versi Ibu Profesional tahun lalu. Ada kabar gembira, yaitu Mbak Ressy dan keluarga akan berkunjung ke Payakumbuh tanggal 19 Januari 2023. Tentu kabar ini begitu menyenangkan untuk saya.

Dengan sigap, saya tawarkan kepada peserta apakah mau belajar dengan mbak Ressy dan keluarga? Peserta serempak menjawab mau! Setelah mendapat persetujuan dari Ibu Septi, pertemuan dengan Mbak Ressy diagendakan pada hari Sabtu atau Ahad. Peserta yang akan datang ke tempat Mbak Ressy di Harau, sehingga tetap murid yang akan berkunjung ke tempat guru.


Karena satu dan lain hal, akhirnya pertemuan berlangsung dengan Mbak Ressy dengan Omah Projek yang berkunjung ke rumah Nibet. Rasanya, berlaku lagi mantra Bu Septi "Murid Siap Guru Datang." Tidak tanggung tanggung! Sang guru datang full team bersama keluarga. Hal ini membuat para peserta puas belajar, bertanya, berinteraksi intens dengan semua personel Omah Projek. Bebas bertanya dengan siapa saja. 

Padahal sebelumnya saya sempat bingung, kemana hendak mencari changemaker di daerah ini yang sudah terseleksi secara internasional seperti di Ashoka Fellow. Alhamdulillah Allah memberi surprise dengan jalan yang tak terduga.

Mulailah Dakaru sesi 3 dimulai, setelah beramah tamah, acara pun dibuka. Suasana berlangsung akrab, obrolan cair, renyah mengalir, tidak ada rasa canggung walaupun baru kali itu bersua langsung dengan Omah Projek. Yang paling penting banyak pelajaran dan insight yang didapat oleh para peserta.

Antusiasme peserta sangat tinggi dengan melemparkan banyak pertanyaan, seperti Apa itu Omah Projek? Sejak kapan mulai membuat projek keluarga? Apa proyek pertama yang dibuat? Pernahkah anak anak protes? Bagaimana menyikapi anak yang protes? Dan masih banyak lagi lagi pertanyaan lainnya yang tidak semua bisa saya tulisan. 

Akan tetapi ada satu pertanyaan yang menggelitik dan seperti menepuk air didulang saja rasanya. Percikan airnya kembali kepada penepuknya. "Bagaimana pada akhirnya Pak Sigit bisa ikut secara penuh dalam setiap projek keluarga yang dibuat?"

Pertanyaan ini dijawab dengan versi Pak Sigit dan versi Mbak Ressy.
Pak Sigit: "Saya selalu diceritakan tentang keseruan projek, cerita tentang anak anak yang senang. Anak juga bercerita tentang kebahagiaannya. Begitu rugi dong saya, semua pada happy-happy, saya nggak ikut. Saya juga pengen ikut bahagia dong. Ya itulah, saya akhirnya ikut secara penuh."

Mbak Ressy: "Saya tidak pernah mengajak Pak Sigit untuk ikut. Diizinkan bikin projek saja bagi saya sudah sangat bahagia. Saya tidak pernah mengharapkan Pak Sigit berubah. Saya fokus pada diri saya saja. Saya ingin menjadi ibu dan istri yang lebih baik. Saya belajar di Ibu Profesional. Saya berubah sedikit demi sedikit. Saya berubah dalam mendidik dan mengasuh anak. Saya berubah dalam melayani suami. Pokoknya saya fokus ke diri saya saja. Eh, surprise ternyata Pak Sigit juga ikut berubah dan mau terlibat aktif. Berkah banget, Masyaallah.”

Pak Sigit juga cerita, pada awalnya Pak Sigit merupakan karakter dengan tipe pendiam dan terbiasa juga dididik dalam keluarga yang tidak banyak berbincang. Ternyata pada akhirnya Pak Sigit bisa berubah lebih banyak berbincang dengan keluarganya. Rasanya, mantra main bareng, ngobrol bareng, beraktivitas bareng, sangat ampuh berlaku. Banyak hikmah yang didapat, walau waktunya singkat dan pertemuan harus segera ditutup karena Omah Projek segera akan melanjutkan perjalanan ke Pekanbaru. 

 

Dakaru Basecamp ke-4

Saya melalui Dakaru basecamp ke-4, Sabtu 25 Februari 2023 dengan sangat bahagia, hati senang, dada lapang, rasanya plong tanpa beban. Rasanya, tak sia sia perjalanan ke Pekan Baru Meet and Learn with Changemakers, Padepokan Margosari dengan Omah Projek, Bu Septi, Pak Dodik, Mbak Enes dan Aka. Sangat meningkatkan booster sekali! Perjalanan pergi dan pulang yang sangat menantang terbayar lunas. Alhamdulillah.

Perlahan, saya lepaskan rasa “baper”, berganti dengan aura dan suasana bahagia. Saya lepaskan juga indikator sukses yang saya set dari awal Dakaru, yaitu 8 keluarga dari 10 keluarga aktif ikut Dakaru. 

Saya sadari, tugas saya cukup dengan hanya berbuat dan berjuang secara maksimal. Hasilnya bukan dalam kendali saya lagi, melainkan saya serahkan pada Allah. Tawakkal saya bulatkan lagi. Niat juga saya periksa dan saya perbaharui kembali. 

Saya jalankan sesuai kebahagiaan saya dan keluarga. Yang paling penting adalah, anak-anak dan suami mendukung dan terlibat dalam setiap prosesnya. Jika ada teman dan keluarga lain yang mau ikut, belajar bersama, berproses bersama maka itu bonus. 

Pada pertemuan di base camp ke-4 ini terasa minim peserta. Yang hadir, ada Alisa dengan 3 anak, Yulia, Nengsi dan Amelia. Peserta lain tidak hadir dengan berbagai alasan, seperti Dini yang tiba-tiba izin sakit, Riza ada kegiatan lain, bahkan ada peserta yang tidak memberi kabar seperti Mittya dan Mimi Cerly. Tidak ada pasangan yang ikut kecuali suami Alisa, dan urung masuk karena tidak ada teman. 

Saya sempat menyampaikan pada para peserta, apabila para Bapak tidak bisa, biar para Ibu saja yang hadir. Karena memang, sangat dimaklumi tidak mudah untuk menghadirkan para Ayah lengkap dengan anak-anak. Kesepakatan kami, di sesi ke-5 nanti saat presentasi Projek Keluarga tanggal 26 Maret 2023 akan hadir lengkap, Ayah, Ibu, dan anak-anak. 

Saya mencoba melihat perjalanan kami semua. Sudah 5 kali pertemuan Dakaru Payakumbuh selalu dengan keluarga, ayah ibu dan anak anak. Termasuk 3 kali bonus di sesi ke-3, ketika bertemu dengan para changemakers, yaitu Omah Projek, Doyan Dolan dan Padepokan Margosari.

Mengingat "masalah" yang banyak muncul itu adalah tentang "komunikasi" maka sengaja kali ini hanya ibu-ibu yang yang hadir, agar bisa semakin tergali masalahnya. Para Ibu bisa bebas mengungkapkan perasaan, tidak jaim, malu dan sebagainya. Oleh karena itu, menuju basecamp ke-4 ini hanya ibu-ibu yang mendaki. Perjalanan terasa lebih slow, santai, “feel”nya dapat, dan materi tersampaikan dengan baik. 

Di sesi ke-4 ini, kegiatan dimulai dengan ice breaking dengan membuat cerita bersambung. Peserta pertama diperoleh dari hasil kocok suara, dan Uni Nengsi yang berkesempatan memulai.

Cerita diawali dengan:
"Cerbung kita, pagi ini adalah pagi yang paling menggetarkan di antara hari-hari yang lain dalam pekan ini. Bagaimana tidak, sudah 2 pekan ini ananda berlatih untuk persiapan untuk tes online masuk ponpes jalur beasiswa di Jakarta. Setelah pagi ini semua dipersiapkan dengan bantuan teman-teman saya di sekolah untuk menyambungkan segala alat yang diperlukan, hp dan laptop juga memasukkan akun segala. Saya yang “gaptek” benar-benar tegang ketika waktu terus berjalan sedangkan ananda belum juga bisa masuk aplikasi. Akhirnya Alhamdulillah ananda bisa selesaikan tesnya tepat waktu. Waah lega!”

Selanjutnya, cerita diteruskan oleh peserta lainnya secara bergantian. Semua terlihat bersemangat dan senang dalam menjalankan sesi bercerita ini. Saya pun melihat bahwa inilah salah satu keunggulan pertemuan tatap muka atau offline. Tidak ada kesalah pahaman, tidak ada disconnect, bisa clear and clarify. Cerita pun dapat tercipta dengan apik dan mengalir.

Setelah sesi bercerita, kami kemudian melanjutkan dengan materi sesi ke-4 mengenai Projek Keluarga. Ternyata semua yang hadir, memiliki masalah yang serupa, yaitu permasalahan komunikasi. Setelah digali lebih dalam lagi, akar permasalahan komunikasi yang terbesar adalah dengan pasangan. Kemudian, diambil sampel dengan salah satu peserta yaitu Uni Alisa. 

Belajar tahap tahapnya. Sampai menemukan ide terpilih. Alhamdulillah teman teman Dakaru get the point. 
"Fahimtum?"
"Fahimna."

Semua bisa pulang dengan perasaan puas, dada plong dan lapang. Bahkan ada blink blink ide menari nari di kepala. Bahkan yang sangat menghangatkan adalah, sudah ada yang mulai meeting keluarga, ngobrol bersama bahkan mempunyai nama unik untuk projek keluarganya seperti, AA Family dengan Projek NoSreng JaMar, Syukri Family dengan Projek MaTaMu. Keluarga AIR dengan Projek Ngobras. 

 

Nan Takona - Lesson Learn

1. Ada sesi yang hanya para Ibu saja yang hadir, yaitu saat merancang projek. Kala itu ibu-ibu bebas mengungkapkan apa yang terasa di hati. Bahwa mengajak para Ayah terlibat penuh dalam ngobrol, main dan berkegiatan itu butuh upaya yang sangat besar. Walau sebenarnya ayah itu tetap mendukung dan support di belakang layar. Buktinya beliau mau memberi izin, lalu ikut mengantar ke tempat acara.
Di momen ketidakhadiran Ayah itulah strategi dibuat dan didiskusikan bersama. Bagaimana cara "menjebak" para Ayah dengan cara yang manis dan lembut sehingga beliau tidak merasa digurui, diperintah dan diajak paksa oleh para istri mereka.

2. Dari pertemuan itu, lahirlah berbagai projek kreatif bertajuk komunikasi di keluarga masing masing. Diantara projek tersebut adalah:
NGOPI (Ngobrol Penuh Arti)
MaTaMu (Rumah Tanpa Marah, Mengeluh, Mengomel, Mengerjakan dll turunannya)
NGOBRAS (Ngobrol Ba'da Isya)
BRONIES (Obrolan Manies)
NO SRENG JAMAR (No srengeh jangan marah)

3. Saat Dakaru Summit melakukan presentasi projek, mulai dari merancang dan menjalankan. Maasyaallah saya senang dan bangga. Semua keluarga berhasil membuat komunikasi menjadi cair dalam keluarganya. Para suami "berhasil terjebak" dan terlibat penuh dalam projek keluarga mereka, bersama anak-anak. Mantra Ibu Profesional bekerja dengan sangat baik: “Main bareng, ngobrol bareng, aktivitas bareng”. Alhamdulillah.

4. Back to basic sesuai nama organisasi.

5. Berharap melibatkan seluruh keluarga dan keluargalah fasilitatornya. Seperti pepatah yang saya sampaikan kepada mereka, “Laisa man aro kaman Samia” yang artinya “Tidaklah sama orang yang melihat dan mengalami dengan orang yang mendengar saja”. 

6. Bahwa setiap daerah mempunyai kearifan sendiri sendiri. Tentu tidak bisa diseragamkan. Segala usaha maksimal sudah dilakukan, teman-teman juga sudah mengusahakan banyak hal. Natawakkal alallah. 

 

(Betty Arianti - Ibu Profesional, Change Leader Gaharu Keluarga. Pendamping Keluarga dan Penulis Kisah Baik Gaharu Keluarga Payakumbuh, Sumatera Barat)