ASVIA: Memperkuat Jejaring Pendidikan Keluarga di Lingkungan Pesantren

Nurun Sariyah, Change Leader Gaharu Keluarga, membagikan pengalamannya memperkenalkan Gaharu Keluarga di komunitas pesantren. Dengan Ruang Tenang dan Ruang Asuh Bersama, serta pembentukan lembaga baru "ASVIA," untuk menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan positif anak-anak dan keluarga di pesantren
Nurun Sariyah - Gaharu Keluarga - Ashoka Indonesia

Perjalanan Mengenalkan Gerakan Pembaharu Keluarga

Nurun Sariyah - Gaharu Keluarga - Ashoka Indonesia


Ketika saya mulai mengenal Gerakan Pembaharu (Gaharu) Keluarga dan menjalankannya, saya merasa mendapatkan sebuah ilmu baru dalam hal pendidikan keluarga. Gaharu Keluarga merupakan sebuah konsep pendidikan keluarga yang berupaya membudayakan cara pandang serta keterampilan pembaharu dalam keluarga. 


Sehingga setiap individu memiliki keterampilan empati, mampu membangun kolaborasi, mengasah kemampuan kepemimpinan, serta berlatih menjadi pembaharu bagi kemaslahatan bersama. Merasa memperoleh manfaat yang baik dari Gaharu Keluarga, saya berpikir untuk mengenalkan konsep ini pada lingkungan saya. 


Tantangan Awal yang Dihadapi


Dengan optimis, saya mulai menyampaikan konsep Gaharu Keluarga kepada Kepala PAUD di mana saya menjadi salah satu anggota komite. Pada saat itu, ide yang saya paparkan diterima dengan sangat baik dan Ibu Kepala PAUD tampak bersemangat ingin menerapkannya. Bahkan beliau berencana melibatkan seluruh guru dan wali murid paguyuban untuk ikut serta. Namun, singkat cerita, rencana tersebut tidak terealisasi. Walau sedikit kecewa, namun saya tidak patah semangat.


Saya pun mencoba untuk mengenalkan Gaharu Keluarga di komunitas pesantren pada para dewan guru dan mengajak untuk bergabung. Setelah menjelaskan tentang Gaharu Keluarga, visi dan tujuannya, kembali saya belum bisa meyakinkan dewan guru. Hasilnya, dewan guru tidak ada yang tertarik.
Dengan mempertahankan optimisme dan semangat, saya pun mengingat lagi, pembekalan yang diberikan Gaharu Keluarga sejak awal, bahwa hendaknya keluarga yang bergabung adalah mereka memiliki kesadaran akan perubahan dan siap berkomitmen secara sukarela untuk berproses bersama selama 4 bulan ke depan tanpa keterpaksaan. 


Berbekal prinsip itu, saya mencoba mengenalkan Gaharu Keluarga pada teman-teman saya beserta keluarganya, terutama teman-teman yang memiliki ketertarikan dan kesadaran mengenai pendidikan keluarga. 


Satu per satu saya berdiskusi dan berbincang dengan semua teman, menawarkan untuk bergabung hingga akhirnya terkumpullah 9 keluarga yang memiliki semangat yang sama untuk menjadi bagian dari agen perubahan. Lahirlah komunitas baru yang kami namakan Gaharu Gemintang.


Gaharu Gemintang Memulai Perjalanannya
Komunitas Gaharu Gemintang diawali dengan jumlah anggota keluarga yang terlibat sebanyak 36 orang. Jumlah ini terdiri atas keluarga dengan usia tertua 35 tahun dan termuda 0 tahun. Sejak awal kami menyadari bahwa kami menghadapi persoalan yang sama antara lain pembagian peran dalam keluarga, pengasuhan anak dan balita, serta relasi keluarga khususnya suami-istri dalam koridor agama Islam.
Kami mulai menyusun kegiatan rutin Gaharu Gemintang yang diadakan setiap bulan.

Pada setiap pertemuan kami melakukan aktivitas seperti, bersama-sama menonton film pendek kemudian merefleksikannya, membahas satu tema terkait film dan mendiskusikannya. Kami juga mengadakan sesi bermain games sebagai hiburan ringan, dan di akhir acara kami bertukar opini tentang apa yang kami rasakan selama perjumpaan tersebut. Tak lupa, kami yang hadir juga membagikan energi yang kami dapat ke grup Whatsapp komunitas untuk memotivasi anggota yang berhalangan agar bisa hadir pada perjumpaan berikutnya.


Di komunitas Gaharu Gemintang, selalu mengalir obrolan yang berbobot dan menarik, terutama setelah kami menonton film The Impossible Dream. Seperti biasa, kami berdiskusi dan merefleksikannya. Anggota merasa memiliki kesamaan dengan gambaran domestik patriarki di film tersebut dan berani menyuarakannya di forum.

Salah satu contohnya tentang pengalaman seorang istri sekaligus Ibu yang hadir bersama suaminya dan 3 putra kecilnya. Ibu ini mengasuh ketiga anak sendiri tanpa ART sambil bekerja sebagai dokter. Menurutnya, kisah dalam film tersebut pernah dialami dan saat ini, sang Ibu sedang berusaha bekerja sama dengan suami dalam pembagian peran pengasuhan dan tugas domestik rumah. Hasil pertemuan kali itu menghasilkan obrolan lanjutan yang lebih intim antar pasangan di rumah masing-masing. Kami harapkan, kegiatan ini dapat memberikan dampak berupa perubahan positif pada pembagian peran keluarga yang bersangkutan.


Kami menyadari adanya kendala yang dihadapi di komunitas ini, jadi kami juga memberikan homework untuk para anggota berupa aktivitas keluarga yang dapat dikerjakan bersama di rumah. Salah satunya memberikan pada masing-masing keluarga toolkit games Hayoo!.


Meskipun dengan adanya komunitas ini ada rasa senang yang dirasakan, tetapi tentu saja ada tantangan lain yang kami hadapi sebagai komunitas baru yaitu membangun komitmen keterlibatan anggota dalam berproses. Yaitu, masing-masing dari keluarga memiliki kendala mengatur waktu pertemuan dalam forum yang ditetapkan di komunitas. Meski demikian, kami telah melaksanakan beberapa kali temu-sapa dan setelah perjumpaan selalu ada energi baru yang kami dapatkan.


Seiring berjalannya waktu, saya merasa kewalahan untuk menjalankan pergerakan komunitas ini sendirian. Dalam mengawal komunitas baru ini, walaupun banyak pelajaran dan catatan penting yang saya dapatkan, tetapi perlahan, saya mulai merasa putus asa. Di sisi lain, saya merasa gerakan Gaharu Keluarga ini sangat bagus, rasanya terlalu sayang untuk terlewat begitu saja. 


Gaharu Keluarga di Ruang Tenang & Ruang Asuh Bersama
Dalam keresahan, saya kemudian teringat program Ruang Tenang bagi para santri yang baru dimulai Oktober 2022 lalu. Ruang aman yang kami bangun untuk merespons anak-anak santri kami yang semester itu sedang butuh ekstra perhatian dan pendampingan. Rasanya inilah satu semester yang tak biasa bagi kami. 


Merasa optimis untuk menjalankan Gaharu Keluarga di lingkungan santri, akhirnya saya memutuskan untuk mengalihkan gerakan Gaharu Keluarga ini kepada keluarga wali santri di komunitas pesantren kami dan dirancang sebagai program pendukung di samping adanya Ruang Tenang.


Tanpa pikir panjang, saya mempersiapkan diri dalam komunitas pesantren dengan santri remaja usia rata- rata 12 hingga 16 tahun. Latar belakang para keluarga santri dan guru di pesantren kami berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah. Di lingkungan ini, kami menghadapi persoalan seputar kenakalan remaja dengan tantangan utama berupa pola pengasuhan bersama antara pengasuh pesantren, para guru, dan wali santri. 


Satu hal yang masih harus kami hadapi adalah tidak adanya fasilitas ruang perjumpaan yang memadai antara tiga pilar pengasuhan ini (Pengasuh-Wali Santri-Dewan Guru). Tapi tentu saja tidak menyurutkan semangat kami untuk terus intens melakukan pendampingan.


Pendekatan juga kami lakukan di komunitas pesantren, di mana di komunitas pesantren kami mulai bergerak meluncurkan program Gaharu Keluarga kepada segenap dewan guru, jajaran pengasuh, dan wali santri. Kami tujukan program Ini sebagai bagian dari upaya menekan angka pelanggaran santri dan pengendalian kembali kondusifitas lingkungan pesantren yang saat itu sedang tidak stabil.


Saya mengubah strategi, kali ini saya tidak lagi menawarkan kepada dewan guru untuk terlibat menjadi anggota seperti sebelumnya, melainkan sebagai fasilitator untuk membantu pembangunan Ruang Asuh Bersama. 


Ternyata ide ini sejalan dengan keinginan dewan guru khususnya para wali kelas untuk dapat secara rutin bertemu-sapa dengan wali santri guna membahas perkembangan dan problematika anak di pesantren. Rasanya senang sekali menemukan cara yang dibutuhkan oleh lingkungan hingga semua akan mendukung upaya yang dilakukan.


Pada bulan Januari, kami membuka program Ruang Asuh Bersama (RAB) bersama para wali santri. Ruang yang kami harap dapat menjadi fasilitas perjumpaan untuk berbagi persoalan parenting remaja santri, sebagai bentuk sinergi antara tiga pilar pengasuhan anak di pesantren.


Di komunitas RAB, kami menyampaikan tentang ide besar Gaharu Keluarga, pentingnya gerakan perubahan, kolaborasi pengasuhan. Kami juga mengadakan perjumpaan bulanan dengan menggunakan salah satu jadwal besuk santri pada akhir pekan. Rutinitas pertemuan wali-santri yang biasanya mereka isi dengan makan bersama, mengobrol ringan, atau terkadang sibuk sendiri dengan gadget masing-masing, dengan hadirnya RAB menjadi lebih bermakna penuh kebersamaan dan berkualitas.
Para wali berkumpul mendampingi putra/putri dalam satu ruangan menonton film pendek. Kami membuka sesi berdialog tentang konten film, lalu sesi penyampaian harapan-harapan wali santri kepada anaknya begitu pula harapan anak-anak terhadap wali santrinya. 


Pembahasan juga berlanjut dengan diskusi tentang sinergi pengasuhan ananda di pesantren. Sesi terakhir, para wali santri berdiskusi bersama wali kelas putra/putrinya masing-masing untuk mendapatkan informasi terbaru perkembangan anak-anak selama sebulan terakhir.


Cukup banyak keluarga yang terlibat dalam RAB ini sekitar 25 keluarga dengan perkiraan jumlah anggota seluruhnya antara 50 hingga 100 orang dengan rentang usia kira-kira 60 hingga 10 tahun. Tak sedikit anak santri kami yang memiliki persoalan keluarga. Ada beberapa yang salah satu atau kedua wali santrinya menjadi buruh migran, sebagian lagi anak dengan orangtua yang bercerai, sebagian lagi tidak memiliki wali santri (yatim/piatu) atau memiliki keluarga lengkap namun minim kasih sayang karena kurangnya perhatian. 


Namun di sisi lain dan merupakan sebuah hal yang menggembirakan, anak-anak santri menjadi cukup dekat dengan saya. Apalagi sejak hadirnya Ruang Tenang, mereka semakin terbuka untuk berbagi cerita pada saya. Lambat laun, masalah pun terurai, dari pengamatan dan penelitian kami melalui cerita dan perilaku anak-anak tersebut, persoalan keluarga inilah akar kenakalan remaja yang terjadi. 


Tentu saja perhatian kami tidak sepenuhnya ditujukan pada anak-anak yang memiliki latar belakang kurang beruntung, karena masih banyak anak santri yang kondisi keluarganya sehat dan baik secara sosial. Kami coba jadikan hal tersebut sebuah sinergi, dengan berbagi keberadaan energi positif dari anak-anak keluarga yang lebih beruntung. Hal-hal yang kami anggap baik dan tepat untuk diangkat kami coba untuk sebar luaskan. Sehingga anak-anak yang merasa tidak diperhatikan oleh wali santrinya dapat merasakan perhatian dari wali santri lainnya. Karena, semakin banyak perhatian dan cinta kasih yang diberikan, hasilnya akan semakin baik.


Lahirnya ASVIA
Di komunitas pesantren, adanya Ruang Tenang, RAB dan serangkaian kebijakan memberikan dampak yang luar biasa dalam mengembalikan stabilitas kondisi lingkungan pesantren. Di Ruang Tenang, anak-anak merasa didengarkan, diperhatikan, dan dimengerti. Mereka saling berbagi cerita, duka, suka, tawa, dan air mata. Mereka dapat mendukung satu dengan yang lain, mereka mampu untuk saling menguatkan, dan mengingatkan. Kepedulian meningkat, angka pelanggaran menurun perlahan. Sumber masalah berupa lingkungan pergaulan yang toxic pun mulai mereda.


Di Ruang Asuh Bersama, para wali santri merasa kawan-kawan anak mereka sebagai anak mereka juga. Wali santri dapat mengajak kawan-kawan anaknya untuk berkumpul bersama mereka saat keluarganya tidak datang berkunjung, termasuk menanyakan dan memberi nasehat kepada santri yang melanggar meski bukan anaknya. 


Para wali santri sadar bahwa anak-anak tak bisa tumbuh menjadi baik secara sendirian, melainkan anak-anak harus berada di lingkungan yang juga baik agar tetap terjaga kebaikannya. Oleh karena itu wali santri terjun untuk menjadi bagian dari lingkungan yang baik itu dan memperbaiki lingkungan anaknya dengan membantu kawan-kawan sekitarnya tetap baik. Mereka merangkul dan memberikan perhatiannya sebab tahu kondisi keluarga si anak yang tidak seperti keluarga anaknya. Saya sangat terharu dan merasa kondisi ini indah sekali. 


Anak-anak merasa banyak yang memperhatikan dan merasa disayang, hingga keinginan untuk melanggar pun perlahan sirna. Ikatan emosional antara para wali santri dengan anak dan kawan-kawan anaknya semakin dekat, semuanya tumbuh menjadi keluarga walau tak sedarah.


InsyaAllah, kami akan melanjutkan kumpulan RT dan RAB ini. Menjaga apa yang sudah kami mulai. Dalam rangka menyeriusi niat kami, Yayasan Shafiyah membentuk sebuah unit lembaga baru yang kami diberi nama Asvia. Sebuah organisasi yang fokus di bidang pemenuhan hak anak dan pengasuhan keluarga.

Saat ini, Asvia telah bekerjasama dengan beberapa pesantren dan lembaga di Jawa Timur untuk melakukan reaplikasi ruang aman anak dan Ruang Asuh Bersama. Semoga kolaborasi ini dapat memperluas dampak baik khususnya bagi masa depan anak dan keluarga di Indonesia, serta memperkuat jejaring dalam gerakan Gaharu Keluarga, Rahima, serta kawan Changemakers lainnya.


(Nurun Sariyah, Pengasuh Pondok Pesantren Shafiyah Rogojampi dan Simpul RAHIMA Jawa Timur, Change Leader Gaharu Keluarga. Pendamping Keluarga dan Penulis Kisah Baik Gaharu Keluarga Jawa Timur)