Jessica - Bertoleransi dalam Satu Visi

Inisiatif Jessica mendorong inklusi dan toleransi di antara berbagai kelompok siswa dengan latar belakang yang beragam melalui kegiatan kolaboratif yang menyenangkan mulai dari kewirausahaan sosial hingga pelestarian lingkungan.
Jessica Indonesia AYC 2019

Dengan lebih dari 50 juta anak muda di Indonesia, seseorang perlu menghargai kekuatan anak muda serta keanekaragaman budaya, agama, dan bahasa mereka untuk membangun Indonesia yang lebih baik. Setiap orang dapat mengambil bagian dalam gerakan Everyone a Changemaker (setiap orang pembaharu) dengan memahami kekuatan mereka, mengasah kepekaan terhadap lingkungan sekitar, dan berkembang dalam keberagaman.

Pembaharu muda seperti Jessica menolak untuk tinggal diam menghadapi intoleransi dan krisis kepribadian bangsa. Dimulai dari sekolahnya sendiri, Jessica dan timnya berusaha untuk menciptakan masyarakat yang lebih inklusif di mana inovasi sosial, aktivisme lingkungan, dan pembaharuan dapat berkembang untuk kemaslahatan bersama.


Di bangku sekolah dasar, Jessica Gunawan mengingat suasana dimana seluruh teman-temannya bermain bersama. Namun, interaksi harmonis ini mulai berubah seiring berjalannya waktu ketika prasangka negatif masyarakat merebak di lingkungan bermain Jessica. Generasi muda menjadi semakin terpisahkan oleh agama, suku, ras, dan status sosial ekonomi mereka. Jessica dilanda kebingungan dan kegelisahan; ia tidak mengerti mengapa teman sebayanya yang kerap bermain bersama tiba-tiba berkata, “Jangan bermain dengannya, dia Hindu.” Kini di sekolah menengah pertama, kejadian tersebut terulang di lorong kelas Jessica, di mana terjadi pengelompokan di antara teman-temannya sesuai latar belakang mereka, terpisah satu sama lain.

Jessica merasa terdorong untuk bertindak. Ia tidak bisa lagi tinggal diam melihat teman-temannya terpecah-belah di lingkungan bermain, atau menyaksikan diskriminasi meluas di ruang kelas. Tidak yakin bagaimana untuk memulainya, seorang guru inovatif di sekolah Jessica di SMP Santa Maria, Pak Martinus, datang membantu. Ia mendorong murid-muridnya untuk mengembangkan diri mereka, tidak hanya berfokus pada nilai dan prestasi akademik.

Pak Martinus menantang Jessica untuk merenungkan, “Apa visi hidupmu? Apa motivasimu dan apa yang ingin kamu lakukan?” Dengan pertanyan yang begitu luas, Jessica merasa terintimidasi; selama ini ia terbiasa dengan orang dewasa memberi tahu apa yang harus dilakukannya dibandingkan bertanya kepada anak muda apa yang ingin mereka lakukan.

Setelah kesekian kali mendapat pertanyaan yang sama, akhirnya Jessica menceritakan tentang kegelisahannya melihat diskriminasi yang menyebar di kalangan anak muda. Berkat diskusi lebih lanjut dengan Pak Martinus dan internalisasi dukungan beliau, Jessica merasa berdaya dengan semangat yang membara untuk menghadapi isu tersebut. Di samping tahu bahwa ia bisa melakukan sesuatu, usia Jessica memperkuat dan memberi nilai tambah dalam inisiatifnya membawa perubahan demi bersatunya negeri ini.

Pada usia 13, Jessica meluncurkan Be One in Diversity, sebuah gerakan untuk menumbuhkan toleransi, rasa saling menerima, dan keragaman dengan melibatkan anak muda dari berbagai latar belakang melalui kegiatan santai dan menyenangkan. Jessica tahu bahwa tidak mudah untuk mengubah sikap yang sudah tertanam lama pada diri seseorang. Ia memutuskan untuk menggunakan hobinya di bidang pelestarian lingkungan sebagai titik masuk awal pada toleransi. Jessica bekerjasama dengan klub duta lingkungan di sekolahnya untuk beraktivitas bersama kelompok masyarakat lokal dengan latar belakang yang berbeda.

Perubahan itu bisa dimulai dari sesuatu yang kecil – dengan hal yang kecil bisa menjadi inspirasi yang besar bagi orang lain.

Alih-alih mengadakan diskusi antaragama yang serius, Jessica meruntuhkan tembok prasangka antar umat dengan mendorong generasi muda untuk berinteraksi dan bekerja dalam suatu isu bersama, seperti konservasi hutan dan mata air. Kegiatan ini menciptakan hubungan positif antar siswa karena pengalaman yang dibagikan menyoroti kesamaan mereka di atas perbedaan.

Namun, beberapa teman Jessica menolak idenya, berpikir bahwa orang dewasa lah yang seharusnya menangani masalah sosial sementara siswa harus fokus pada tugas sekolah mereka. Mendengar komentar ini, ia merasa ragu dan mempertanyakan inisiatifnya.

Semangat pembaharu Jessica kembali membuncah mengetahui kasus pemboman akibat konflik umat beragama yang terjadi sekitar 10 menit dari sekolahnya di Surabaya. Jessica pergi ke sekolah pada hari berikutnya dengan ketegangan antar umat beragama yang meningkat. Dari kelas ke kelas, Jessica merasa sangat gelisah, terlebih dengan berita utama yang terus disiarkan di media massa. Salah satu fakta paling mengkhawatirkan tentang pemboman itu adalah, untuk pertama kalinya dalam sejarah Indonesia, anak-anak semuda sembilan tahun ikut serta dalam serangan itu.

Jessica menyadari bahwa jika generasi muda tidak memiliki kekuatan untuk membuat perubahan positif, maka mereka akan mengabaikan masalah sosial dan menormalkan intoleransi. Politik “kita versus mereka” dan perbedaan agama telah memicu perpecahan di masyarakat, dan pemboman ini secara eksplisit menunjukkan bahwa fundamentalisme memengaruhi kaum muda. Jessica berpikir jika orang-orang dapat terpengaruh hal buruk, maka mereka juga dapat terpengaruh oleh hal baik. Insiden bom tersebut memperkuat tekad Jessica untuk membangun generasi yang dapat mengakhiri prasangka dan permusuhan antargenerasi di seluruh Indonesia.

Jessica memperluas gerakan Be One in Diversity-nya dengan meningkatkan kolaborasi. Di sekolahnya, ia bermitra dengan OSIS dan klub lain untuk menyelenggarakan lokakarya, diskusi, dan kegiatan yang berfokus pada toleransi dan pemberdayaan anak muda melalui pendekatan di bidang kewirausahaan, lingkungan, keterlibatan masyarakat, dan keadilan sosial. Tak hanya itu, ia juga melibatkan siswa di sekolah lain untuk merayakan keberagaman dan menyebarkan apa yang disebutnya sebagai “virus kebaikan.” Jessica dan timnya merangkul teman-teman di pesantren, Madrasah Aliyah, Majlis Ta’lim, serta komunitas lokal di sekitar Surabaya dan Jombang. Perlahan, rasa kebersamaan dalam keberagaman mulai terbangun kembali.

Dengan mendiversifikasi kegiatannya dan membentuk tim, Jessica membangun Be One in Diversity sebagai ajakan bagi generasi muda untuk merayakan keragaman mereka dan kekuatannya dalam membuat perubahan. Jessica melihat Be One in Diversity sebagai model bagi setiap sekolah di Indonesia untuk mengatasi radikalisme sembari membangun kesadaran, solidaritas, dan empati.

Untuk menjadi seorang pembaharu, Jessica berpendapat bahwa kita “tidak harus menjadi seseorang yang terkenal, profesional, memiliki gelar bergengsi, dan sebagainya. Semua orang bisa menjadi pembaharu, bahkan anak muda seperti saya, atau bahkan yang di bawah umur saya bisa menjadi pembaharu yang hebat. ”