Available in IDEN

Ila - Mengenalkan Dunia demi Generasi Bulukumba yang Berdaya

Ila menemukan kekuatannya sebagai pembaharu ketika mempertanyakan norma budaya yang menghalangi akses anak perempuan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Tidak tinggal diam, ia mendirikan perpustakaan umum yang interaktif di sekolahnya untuk membuka wawasan teman-teman agar berani bermimpi dan berdaya.

Cerita menginspirasi kita, menantang kita untuk berpikir melebihi diri kita sendiri, dan bermimpi melampaui kenyataan kita saat ini. Banyak pembaharu muda, seperti Ila, menggunakan seni bercerita sebagai inti dari gagasannya untuk membawa perubahan. Didorong oleh kesadaran akan pentingnya pendidikan dan kegemarannya di dunia literasi, Ila, bersama teman-teman dan gurunya, mendirikan sebuah perpustakaan umum untuk membangun budaya membaca, belajar, dan membawa perubahan di kalangan anak-anak dan remaja. Ila percaya bahwa Indonesia dapat bangkit menjadi negara yang lebih sejahtera dengan memberdayakan generasi muda dengan literasi perubahan (changemaking literacy).


"Jika kamu tidak sanggup menahan lelahnya belajar, maka kamu harus sanggup menahan perihnya kebodohan."

Tumbuh dan berkembang di Bulukumba, Sulawesi Selatan, Hilyatul Aulia Syahrul, yang akrab disapa Ila, selalu mendengar pepatah ini dari neneknya. Wanita-wanita kuat dalam kehidupan Ila memotivasinya untuk menjunjung tinggi pendidikan. Ibu Ila merupakan satu-satunya orang dalam keluarga yang lulus dari sekolah menengah, dan menunjukkan kepada Ila bagaimana pendidikan dapat membuka peluang profesional dan ekonomi baru untuk kesejahteraan dan taraf hidup yang lebih baik. Meski banyak anggota keluarganya yang berpendidikan rendah atau tidak sama sekali, mereka semua mendukung Ila untuk bersekolah setinggi mungkin.

Namun, dukungan semacam ini belum menjadi norma di desa Ila di Bulukumba. Tidak seperti keluarga Ila, kebanyakan orang gagal melihat pentingnya mendidik anak perempuan. Di kalangan masyarakat setempat, anak perempuan biasanya tidak berani bermimpi besar karena minimnya wewenang untuk memilih dan kemampuan membuat perubahan yang ditekan oleh norma-norma budaya. Tak jarang Ila menemui teman seusianya yang menikah dan putus sekolah, seorang diantaranya meninggal saat melahirkan. Hal ini menggores hati Ila, ia mulai mempertanyakan norma-norma yang ada di sekitarnya.

Pada tahun 2018, ketika Ila berusia 13 tahun, ia dinominasikan oleh gurunya untuk bergabung dalam program pertukaran pelajar di Jakarta, dimana ia tinggal dengan keluarga asuh dengan latar belakang agama dan budaya yang berbeda. Program ini juga mendorong siswa untuk berkontribusi ke kampung halaman dengan perspektif dan pengetahuan baru yang mereka dapatkan tentang dunia, pada saat inilah sebuah ide tercetus di benak Ila.  

Seorang pembaharu harus memiliki keberanian dan tekad yang kuat. Hal ini diperoleh dari dalam melalui empati dan kesadaran diri, serta dari lingkungan sekitar kita.

Ila sangat gemar membaca. Menurutnya, membaca berperan besar dalam keberhasilannya sejauh ini dan menjadi aspirasi masa depannya. Kini, ia ingin menginspirasi teman-temannya untuk bermimpi besar dan mengejar pendidikan tinggi dengan membangun perpustakaan di sekolahnya yang berisi

koleksi buku informatif dan inspiratif untuk membuka wawasan akan dunia di luar sana. Perpustakaan ini diberinya nama “Mari Mengenal Dunia.”

Sekembalinya ke desa, Ila membangun sebuah tim, yang mencakup guru dan teman-teman dekatnya. Bersama, mereka mengubah sebuah ruangan di sekolah menjadi perpustakaan. Ila juga menceritakan inisiatif ini kepada teman-teman dan keluarga asuh yang ditemuinya ketika mengikuti program pertukaran, yang kemudian menyumbangkan buku-buku inspiratif dan edukatif untuk perpustakaan Ila. Perlahan, buku-buku sumbangan itu mulai memenuhi rak.

Ila Mari Mengenal Dunia

Meski bersemangat dengan jumlah buku yang berhasil dikumpulkan oleh timnya, Ila terkejut dengan tingkat partisipasi pengunjung perpustakaan yang rendah, terlepas dari upaya pemasaran yang telah dilakukan. Ila menyadari bahwa ia perlu berkolaborasi dengan pihak lain dan merancang strategi kreatif untuk menarik perhatian anak-anak. Ia merangkul tim OSIS di sekolah untuk menyebarkan ajakan ini dari mulut ke mulut, dimulai dari saudara dan teman dekat mereka, serta menciptakan acara mendongeng dan diskusi mingguan di perpustakaannya. Perlahan, tetapi berhasil, jumlah pengunjung mulai meningkat.

Di antara koleksi buku yang ada, Ila memperhatikan bahwa biografi menjadi yang paling menginspirasi karena mereka menceritakan kisah orang-orang nyata, beberapa diantaranya membangun hal luar biasa dari nol, seperti Steve Jobs. Ila menyadari bahwa inspirasi itu menular, seperti yang dilihatnya di Mari Mengenal Dunia, dimana perpustakaannya mendorong lebih banyak anak muda untuk membaca dan berani bermimpi.

Satu cerita mengena dalam diri Ila pada khususnya. Seorang gadis muda kelas 4 SD yang tinggal tak jauh dari rumah Nenek Ila datang untuk bermain, secara spontan Ila bertanya tentang mimpi gadis tersebut. Ia menjawab, “Mengapa bermimpi jika kita seorang perempuan? Ujung-ujungnya akan berakhir di dapur,” mengungkapkan bahwa hidupnya sudah ditentukan sejak dini untuk berkutat di rumah. Namun, setelah Ila mengajaknya bergabung di Mari Mengenal Dunia dan setelah gadis itu menghadiri beberapa sesi bercerita, dengan penuh percaya diri ia memberitahu Ila, “Kelak, saya ingin menjadi dokter agar bisa bikin klinik gratis untuk mengobati orang-orang di desa kita supaya tidak usah pergi jauh ke desa seberang untuk menjadi sehat. Saya tahu saya bisa jika saya belajar dengan sungguh-sungguh.”

Ila Mari Mengenal Dunia Teamwork

Ila sendiri bercita-cita untuk melanjutkan sekolah di luar negeri dan menjadi pengacara agar dapat membela keadilan bagi orang-orang yang lemah. Untuk saat ini, Ila berusaha mempertahankan keberlangsungan inisiatifnya dengan merekrut adik-adik kelas untuk mengelola perpustakaan ketika ia lulus dan melanjutkan SMA di kota. Di lingkungan yang baru ini, Ila berencana untuk memperluas aksi perubahannya dengan memulai perpustakaan untuk anak jalanan, menyesuaikan kondisi setempat. Ia ingin membantu anak-anak yang kurang beruntung untuk belajar membaca, mengembangkan keterampilan literasi mereka, dan memperluas imajinasi untuk berani bermimpi.

Berkaca pada kehidupannya dan arti menjadi seorang pembaharu, Ila berkata, “Sekarang saya menyadari bahwa tinggal di desa yang dikelilingi oleh beragam isu merupakan sebuah berkah yang tersamarkan. Situasi ini memberi saya dan orang lain lebih banyak tantangan dan peluang untuk memecahkan masalah dan menjadi pembawa perubahan.”