Kisah Inspiratif Keluarga: Menanam Kebiasaan Baik Bersama Dakaru

Kisah perjalanan keluarga pembaharu dalam agen perubahan yang proaktif, menghadapi masalah dengan bijaksana, dan meningkatkan empati untuk memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitarnya.
Family Changemaking in Indonesia - Ashoka Indonesia

Membangun Kebiasaan Baik di Dalam Keluarga

Sebagai seorang ibu dari dua orang anak, saya yang memang senang belajar tentang pendidikan keluarga banyak mendapatkan ilmu di Ibu Profesional. Banyaknya manfaat yang saya dapatkan selama belajar dan berkembang, membuat saya ingin mengajak lingkungan sekitar untuk melakukan hal yang serupa, sehingga kualitas keluarga semakin baik. 

Cerita ini adalah kisah saya dalam mendampingi 10 keluarga yang berproses dalam Dakaru atau Dasa Keluarga Pembaharu yang merupakan bagian dari Gerakan Pembaharu Keluarga atau Gaharu Keluarga.

 

Family Changemaking in Indonesia - Ashoka Indonesia

Belajar, Berkembang, Berkarya, Berbagi dan Berdampak

 

Selama mengenal Ibu Profesional, saya merasa mendapatkan value yang sangat relevan untuk diterapkan dalam keseharian. Semua hal baik ini saya awali dengan bergerak di ranah domestik (internal) keluarga. Caranya dengan memperbaiki diri dan terus berproses hingga mampu menghasilkan karya. 

Ilmu yang saya terima benar-benar saya praktikkan, sehingga pada setiap fase, saya merasa memiliki pengalaman yang unik untuk dibagikan. Keinginan saya, setelah selesai dengan ranah domestik, maka dilanjutkan untuk bergerak di ranah yang lebih luas. Menjadikan diri bermanfaat ke sekitar dengan banyak berbagi dan berdampak dengan apa yang kita miliki.

Di Ibu Profesional, kami belajar tentang pendidikan ibu dan keluarga. Bagaimana seorang ibu meningkatkan kapasitas dirinya dengan terus menggali kelebihannya, mampu mensiasati kelemahan sehingga akhirnya menjadi ibu kebanggaan keluarga dan masyarakat.

Dengan bekal inilah kami bergerak dari ranah yang kami pahami untuk menyebarkan kemanfaatan. Mengajak sebanyak mungkin keluarga untuk menjadi keluarga yang berdaya, dimulai dari memperbaiki kualitas keluarga. Karena kami di Ibu Profesional meyakini bahwa generasi yang hebat lahir dari para orangtua hebat yang memantaskan dirinya untuk menerima dan mendidik anak-anak yang hebat. Artinya, yang pertama harus berubah adalah orangtuanya.

Untuk itu, Ibu Profesional dalam melesatkan Gerakan Pembaharu Keluarga melakukan pendampingan terhadap 10 keluarga yang berkomitmen untuk mau belajar dan berkembang. Pendampingan dilakukan selama 5 bulan, dimana saya adalah salah satu yang mengambil peran sebagai fasilitator di regional Yogyakarta. 

Tentang Dasa Keluarga Pembaharu

Gerakan Keluarga Pembaharu, di Ibu Profesional diberi nama dengan Dasa Keluarga Pembaharu yang disingkat Dakaru. Pada program ini, 10 keluarga berkumpul dan berproses bersama yang didampingi oleh 1 fasilitator dan dibantu oleh support system. 

Dakaru dikemas berupa sebuah Gamifikasi atau aktivitas dengan cara membuat pengalaman yang didapatkan saat memainkan permainan untuk memberi motivasi. Lalu dilanjutkan dengan Pendakian Gunung 1, 2, 3, 4 hingga Summit.

Proses diawali dengan pendaftaran, dengan mencari 10 keluarga yang siap berkomitmen terhadap Dakaru. Tentunya tahap ini tidaklah mudah, di mana tantangannya adalah kultur di Ibu Profesional yang belajar adalah sang Ibu.  Meskipun selama ini, dukungan para suami Ibu Profesional adalah mengizinkan istrinya belajar dan berkegiatan tapi suami sendiri tidak terlibat langsung dalam kegiatan. 

Maka, untuk mengajak seluruh anggota keluarga khususnya sang suami sebagai kepala rumah tangga, tentunya perlu effort yang lebih. Para Ibu calon peserta Dakaru harus merayu sang sang ayah dengan sedemikian rupa, meyakinkan mereka bahwa kegiatannya tidak akan membosankan maupun mengintimidasi. Bahkan tidak jarang, para ibu ini “menjebak” para Ayah untuk mau daftar, datang dan terlibat penuh nantinya. Yang menggembirakan,  pada akhirnya sang suami bersyukur karena jebakan sang istri.

Dari mulai proses pendaftaran hingga membuat komitmen bersama, maka terpilihlah 10 keluarga dengan total seluruh peserta ada 36. Dengan rentang usia 1 hingga 43 tahun, juga menjadi tantangan tersendiri dalam mengemas acara agar semua anggota keluarga bisa menikmati dengan bahagia. 


Setelah proses persiapan selesai, selanjutnya adalah pendakian. Sebelum pendakian ke-1 ini sebagian besar ibu-ibu merasa kuatir terhadap suami mereka dan berbagai pertanyaan berkecamuk. Seperti, “Apakah suami akan menikmati kegiatan ini?”, “Apakah suami nanti akan kapok?”, “Apakah nanti sesuai dengan yang diharapkan?” dan kekhawatiran lainnya. Kendati demikian, ibu-ibu peserta Dakaru tetap optimis bahwa semua akan berjalan dengan lancar.

Bulan berganti, sesi pendakian pun tak terasa terlewati satu persatu. Walaupun rasanya sangat berat di awal, ternyata saat dijalani sungguh membahagiakan. Tak terasa bahwa setiap tahapan sudah terlewati dengan baik, hingga seluruh kekhawatiran pun lenyap.

Pendakian selanjutnya menjadi sesi yang selalu ditunggu-tunggu. Karena di pendakian ini terdapat banyak kesempatan untuk ngobrol, main, beraktivitas bareng keluarga yang selama ini jarang dilakukan dengan mindfull. Selain itu, bertemu dengan keluarga lain, saling tukar informasi,belanja gagasan adalah hal yang berharga.

Dari Pendakian 1 hingga Summit, semua peserta sepakat jika sesi Summit yang paling berkesan. Kami melakukan piknik bareng, berkunjung ke kediaman pendiri Ibu Profesional, yaitu Bapak Dodik dan Ibu Septi. Bertemu dengan teman-teman Dakaru Salatiga membuat keseruan bersama. 

Pada pertemuan itu, semua membawa makanan favorit keluarga, menikmati agenda museum walk, sharing, diskusi dengan sesama peserta, serta mendengarkan wejangan dari bapak Dodik dan Ibu Septi. Sesi inilah yang semakin menguatkan para suami untuk semakin terlibat dalam pengasuhan untuk menjadikan keluarga mereka menjadi keluarga yang tangguh.

 

Dakaru, Menguatkan Bonding antar Anggota Keluarga

Menjadi bagian dari Gerakan Keluarga Pembaharu ini adalah salah satu hal baik yang sangat saya syukuri. Saya banyak belajar dari para keluarga dampingan maupun sesama teman-teman Change Leaders. Apalagi dari sisi peserta, mereka merasa banyak mendapatkan banyak manfaat dari Dakaru ini. Sesi feedback diisi dengan hal-hal positif yang menghangatkan hati. 

Hal-hal positif tersebut saya sebut dengan “Kebiasaan Baik Dalam Keluarga”. Dimulai dari memperbaiki kualitas komunikasi antar anggota keluarga. Sesi pendakian Dakaru menjadi pemantik bagi keluarga-keluarga ini untuk saling bincang, diskusi maupun main bareng. Main sederhana yang ternyata berdampak sekali terhadap bounding keluarga. 

Hubungan ibu, ayah, anak semakin dekat, karena tak ada jarak maupun sekat saat bermain bersama. Begitu pun dengan ngobrol. Obrolan yang selama ini dilakukan sambil lalu, atau disambi dengan memegang gadget, sekarang sudah tidak lagi. Waktu ngobrol adalah waktu yang sangat berharga, meskipun tidak penting apa yang dibicarakan, yang penting mengobrol bersama. 

Yang dulunya takut untuk memulai suatu obrolan yang sensitif, kini tidak lagi. Karena mereka menyadari, semakin banyak ngobrol dengan pasangan maupun anak-anak, maka mereka akan semakin saling memahami.

Kemudian, keluarga-keluarga ini jadi lebih banyak belajar berempati. Melihat ke dalam, dan melakukan refleksi diri, seperti, “Apakah selama ini keluarga kami baik-baik saja?” atau “Adakah hal-hal yang dirasa ingin diperbaiki?” 

Proses yang butuh kejujuran dan tidak menutup mata terhadap fakta yang terjadi. Melihat sesuatu tidak hanya dari luarnya saja, tetapi belajar menggali apa yang sebenarnya terjadi di balik itu. Dengan berlatih ber-empati menggali permasalahan yang ada di internal keluarga, harapannya ketika keluarga-keluarga ini bergerak ke luar, mereka dapat melihat lingkungan sekitar. Menumbuhkan bibit pembaharu yang peka terhadap masalah yang ada. 

Selain itu, dengan Dakaru mereka lebih memahami tentang karakter keluarga mereka dan value keluarga semakin tegas. Ketika dibenturkan masalah internal dalam rangka memperbaiki kualitas keluarga, value keluarga semakin teruji. Yang awalnya masih ragu-ragu dengan nilai keluarga yang mereka terapkan, kini mereka menjadi semakin yakin.

Yang paling membahagiakan adalah dari terciptanya kebiasaan baik yang terbangun dalam keluarga tersebut, rupanya keluarga-keluarga dampingan ini merasakan jika kualitas keluarga mereka jadi lebih baik. 

Indikatornya adalah, yang pertama keluarga menjadi lebih kompak dan solid. Lalu kedua, waktu berkualitas dengan keluarga semakin banyak, dengan banyak main, ngobrol dan beraktivitas bersama. Kebiasaan ngobrol, main dan beraktivitas bareng dalam keluarga menjadi modal utamanya. Dengan kebiasaan tersebut, antara ayah, ibu dan anak lebih mudah saling memahami, saling support, tenggang rasa, dan semakin banyak mengetahui irisan persamaan antar anggota keluarga. Indikator ketiga adalah komunikasi semakin baik. Menyampaikan pendapat jadi lebih santai dan obrolan dua arah bisa terjadi dengan mengasyikkan. 

Ada lima keluarga pada program Dakaru yang membuat sebuah project tentang memperbaiki kualitas hubungan keluarga dengan memperbaiki pola komunikasi. Mereka membuat family forum dengan lebih banyak mendengar, dan lebih mengasah empati (kepekaan terhadap sesuatu yang sebagaimana mestinya).


Mereka juga lebih banyak berbincang membahas hal-hal yang berkualitas, dengan banyak main bareng dan mengurangi sikap meluapkan emosi yang berlebihan. Melakukan project selama satu bulan bersama keluarga, mampu “memaksa” mereka untuk berbenah diri, melakukan kebiasaan baik yang mereka sudah tuliskan.

Dan, setelah berproses selama satu bulan, mereka merasakan hasilnya. Ada yang family forum terbentuk rutin dengan obrolan yang seru. Ada juga yang ayah ibunya lebih bisa menahan diri untuk berkomentar negatif terhadap apa yang anak-anak lakukan. Banyak menahan diri, demi anak-anak percaya diri dengan karya mereka.

Ada lagi yang empatinya lebih terasah, seperti ketika melihat sesuatu yang tidak sesuai, langsung bergerak memperbaiki tanpa harus ada teguran maupun debat terlebih dahulu. Dan yang lain, sang Ayah lebih semangat terlibat langsung dalam pengasuhan. Ayah juga lebih meluangkan waktu menemani anak-anak bermain, tidak hanya fokus di HP. Konsep yang dilakukan Ayah saat ini adalah lebih bisa meluangkan waktu untuk keluarga, bukan menyisakan waktu bahkan lebih memiliki rencana keluarga ke depan agar keluarga mereka lebih baik lagi.

Membahagiakan rasanya, ketika teman-teman bersungguh-sungguh dalam proses dan merasakan hasilnya. Sebagai fasilitator, melihat keluarga binaan banyak mendapatkan manfaat dari seluruah kegiatan, merupakan kebahagiaan yang luar biasa. Semoga setelah pendakian selesai, keluarga-keluarga ini tetap dapat menerapkan kebaikan-kebaikan yang mereka dapatkan selama Dakaru, bahkan lebih melejitkannya. 

Seperti misalnya, ketika ada masalah hadir, para keluarga sudah tahu harus melakukan apa. Dan ketika tampaknya tak ada masalah yang muncul, maka saatnya meninggikan radar empatinya untuk menemukan sesuatu di sekitar mereka yang dapat dijadikan ladang kebaikan bagi mereka. Diharapkan semua keluarga ini dapat menjadi agen perubahan yang bermanfaat untuk orang-orang dan lingkungan di sekitar mereka. 

 

(Ratna Palupi, Ibu Profesional dan Change Leader GAHARU Keluarga. Pendamping Keluarga dan Penulis Kisah Baik Dakaru wilayah Yogyakarta)